KOMPOSTER DAN TANAMANKU

MERAWAT tanaman dan bunga-bunga adalah bagian dari kecintaan dan penghargaanku kepada lingkungan. Di halaman depan dan belakang rumah kami yang tidak luas, berdempet tanaman buah dan bunga. Sebagian bisa kusebutkan; markisa, lengkeng, jeruk kunci, jambu air dan guava, bunga kenanga, melati Belanda, wijaya kusuma, dll.

Bukti cintaku yang lain ke lingkungan adalah pengolahan sampah organik menggunakan komposter. Upayaku mendisiplinkan anggota keluarga agar memilah sampah an organik dan organik mulai menunjukkan hasil. Kami tidak lagi mengangkut sampah organik kami ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS), kami memprosesnya di komposter (media pembuat kompos).

Ini adalah komposter yang kupesan ke seorang teman sekitar 3 tahun lalu. Masih kupakai sampai sekarang. Selain menghasilkan kompos kering, alat ini juga mengeluarkan pupuk cair.

Ini adalah media lain yang kutanam di halaman rumah untuk mengolah sampah dapur kami. Pembuatannya mudah, tinggal melobangi ember (jalan cacing) di dinding dan bagian bawah ember. Lalu ditanam di tanah.

Ini sampah basah/organik yang telah berubah menjadi tanah kompos dengan bantuan cacing tanah. Tak lama lagi kompos ini dapat dikeruk dan digunakan untuk menambah media tanam di pot kembang atau pohon buah kami.

Aku juga menggunakan biopori untuk melakukan komposasi. Sampah berupa perut atau bagian terbuang dari ikan/ayam/daging aman disimpan di komposter yang ditanam di bawah tanah ini karena bisa menyembunyikan bau dan belatung. Kelemahannya terasa waktu memanen kompos. Lobang biopori yang sempit menyulitkan mengeruk kompos yang dihasilkannya.

Jika mau berhasil mengompos, ini kunci keberhasilannya. Perhatikan komposisi sampah kering dan sampah basah. Idealnya komposisi C/N (Carbon/nitrogen) : 3/1. Serta gunakan starter untuk mempercepat komposasi. Starter dapat berupa ecoenzym, EM4 atau bokashi.


Leave a comment