Diskusi tentang persiapan hidup bahagia di hari tua selalu menggugah pikiranku. Barusan aku baca threads tentang hal ini dan direspon oleh banyak orang. Ada yang respon perempuan di umur 60 tahun, ada yang masih punya anak bayi (umurnya di kisaran 30 tahunan) namun sudah mikir mau dibawa kemana hidupnya setelah anak-anak besar dan mandiri. Bahkan ada threads yang mengungkapkan dia juga sedang mempersiapkan masa depannya seandainya harus menjadi single parent (sebab si suami masih asik bercanda dengan hidup alias kurang bertanggung jawab).
Bergantung kepada kasih sayang anak, nampaknya bukan pilihan ideal di zaman ini. Anak-anak sekarang tidak kelihatan bersungguh-sungguh mencintai orangtuanya. Mungkin di hati mereka sayang sih, namun tak terlihat di ucapan dan tindakan, atau hanya sekali-sekali saja terasakan atau terlihat. Padahal kan orang tua yang makin tua gampang rindu, gampang sedih, mudah kesepian, sehingga ungkapan kasih sayang dari anak-anak yang samar-samar itu tak memadai, bisa bikin hati tambah rapuh.

Aku telah memikirkan persiapan masa depan sejak dua tahun lalu. Sebelumnya sudah mikir juga namun tak terlalu serius. Namun setelah si bungsu selesai kuliah dan bekerja, aku berkomitmen ke diriku inilah waktunya untuk memikirkan langkah ke depan paska ditinggal anak-anak.
Apalagi waktu itu aku mulai sakit agak serius. Dibawa ke rumah sakit karena asma, dan lain waktu diopname karena vertigo. Gaya hidup waktu itu (secara umum bisa kusimpulkan dengan istilah: yang terjadi terjadilah) tak boleh diteruskan. Aku harus merubah gaya hidup. Tubuhku telah mengingatkan dengan cara yang gentle, bukan berupa penurunan kesehatan drastis atau penyakit berbahaya mematikan melainkan dengan isyarat lebih lunak.
Aku mulai olahraga, jalan keliling stadion GOR kotabaru setiap hari Jumat. lalu frekuensinya ditambah Sabtu atau Minggu. Lumayanlah, dua kali dalam satu minggu. Sebetulnya belum ideal, mestinya tiap hari jalan kaki dengan durasi minimal 30 menit. Meningkatkan frekuensi jalan kaki akan jadi targetku berikutnya.
Perubahan yang kulakukan selanjutnya adalah menyiapkan investasi jangka panjang. Dulu aku suka menyimpan dana dalam bentuk deposito, namun setelah aku mempelajari investasi saham, kok terasa rugi ya…
Duit deposito 50 juta hanya menghasilkan inkam pasif Rp80 ribuan per bulan (Rp960 ribuan per tahun). Padahal dengan duit sejumlah itu, jika aku belikan misalnya ke saham PGAS, aku menjadi pemilik saham 328 lot. Perusahaan PGAS membagikan dividen Rp148.31/lembar pada tahun 2024, sehingga dividen yang berpotensi kuraih 4,8 jt/tahun. Jauh lebih besar kan dibanding didepositokan di bank.
Investasi saham benarnya sudah kudengar dan agak tertarik belasan tahun lalu. Aku merasa ini bisnis yang keren dan sulit digeluti. Namun ketika kupelajari dua tahun lalu, kok tidak serumit yang kubayangkan. Kalau mau jadi trader saham sih memang agak tricky, harus paham analisis candle stick segala macam.
Namun kalau mau jadi investor saham tak perlu belajar sedetil itu. Cukup beli saham bagus dengan memperhatikan beberapa indikator fundamental, lalu pilih satu saham yang prospeknya bagus. Sudah….inveslah di sana. Tambah koleksi sahamnya…beli terus.
Ketika menikmati dividen pertama…aku merasa keren banget. Akhirnya menjadi bagian dari orang-orang yang tahu mendapatkan uang dengan mempekerjakan uang itu sendiri.
Tentu saja semua investasi ada resikonya. Investasi saham juga ada. Namun bisa diminimalkan selagi mau belajar dan ikuti cara milih saham yang logis berdasarkan analisa fundamentalnya. Aku pernah melakukan investasi non saham, mempercayakan segepok uang ke orang lain untuk modal usaha dan ternyata dia nipu. Resiko itu mudah-mudahan tak ada di investasi saham yang selalu diawasi PT. Bursa Efek Indonesia.
Bahagia harus diperjuangkan, tidak datang sendiri apalagi diberikan secara percuma oleh orang lain (aku sudah lama tak percaya yang ini).