Merumuskan Tujuan Hidup Sekali Lagi, Apakah Suatu Kebingungan atau Keharusan?

Saat perjalanan ke bandara kemarin, aku katakan ke suami bahwa kami harus sepakat untuk memulai suatu tujuan hidup baru. Usia kami berdua telah lewat 55 tahun. Kami tak bisa begini terus, melanjutkan gaya hidup lama ketika usia kami lebih muda dan ada anak-anak yang diurus. Harus ada perubahan, agar kami tak terjebak menjadi orang yang menjalani hidup membosankan. Apa perlunya kami merumuskan tujuan hidup baru di saat usia tak muda lagi?

Menurut standar WHO dan UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, kami belum masuk kategori lanjut usia. Lanjut Usia atau lansia merujuk ke mereka yang telah berumur 60 tahun ke atas. Ketika mengatakan itu ke suami pikiranku sedang terang. Menurutku sangat penting untuk mengajak dia setuju dengan apapun yang aku rencanakan, dan aku setuju dengan apa yang dia rencanakan.

Dalam perjalanan perkawinan kami yang melewati 29 tahun, banyak hal telah kami rencanakan bersama, namun ada sebagian yang aku dan dia rencanakan sendiri, lalu kami wujudkan dengan cara masing-masing. Ada yang berhasil dan kami nikmati hasilnya sekarang, ada yang gagal dan menimbulkan kerugian material cukup besar namun telah kami ikhlaskan dan kadang-kadang saja muncul dalam pikiran.

Namun sekarang, diusia kami yang tak muda (meski belum lansia), aku rasanya tak sanggup untuk menjalankan suatu rencana sendirian saja, tanpa persetujuan dan kesepakatan suami. Banyak hal yang membuatku seakan ‘lemah’ dan perlu didukung.

1. Suami adalah suporter, bukan oposisi

Sebelumnya aku kuat menerima kritik atau ejekan suami terhadap apa yang aku lakukan yang menurutnya konyol atau terburu-buru. Sekarang aku tak menginginkan dia menjadi oposisi dari keputusan-keputusan yang kuambil. Aku telah mengurangi independensiku, aku memerlukan pendukung dan ketenangan. Teman hidupku seharusnya menjadi loyalis dan satu tim denganku.

2. Memperbanyak Waktu Bersama

Hidup kami di dunia tentu tak akan selamanya. Ketika anak-anak telah memiliki keluarga sendiri, atau membangun karier yang menyita waktu mereka, aku dan suami seharusnya menjadi teman yang menghabiskan waktu bersama lebih banyak, dibandingkan waktu dengan orang lain. Jika dulu kami lebih mementingkan quality time, sekarang kami butuh paket quality dan quantity time. Kesepian berbahaya bagi senior seperti kami.

3. Laki-laki Lebih Terampil di Area Outdoor

Tujuan bersama yang ingin kubangun bersama suami menyangkut aktivitas outdoor yang memerlukan keterampilan dan kecekatan seorang laki-laki. Aku boleh saja mahir merencanakan detil desain, tanaman, pembiayaan dan lain-lain, namun suamiku (dan laki-laki pada umumnya) lebih menguasai cara mewujudkannya, dan bertindak mengatasi masalah yang muncul di lapangan.

4. Koneksi Lebih Luas

Koneksi dan pertemanan suamiku lebih luas, dia tahu siapa yang harus kami hubungi ketika berhadapan dengan suatu masalah dan perlu bantuan. Aku lebih ‘kuat’ bekerja di balik layar, termasuk mengalokasikan dana, mematangkan konsep dan hal-hal lain yang bersifat domestik.

Lalu, apa sebenarnya tujuan baru yang aku usulkan ke suami tersebut? Kuceritakan nanti, pada waktu yang tepat.


Leave a comment