Cincin ini paling sering kupakai satu tahun belakangan ini. Cincin emas 20 karat dengan setumpuk permata (non intan/berlian). Cincin ini kutemukan di Gallery Pegadaian. Aku cukup sering ke sana untuk melihat perhiasan yang dijual, yang biasanya merupakan milik nasabah yang tak mampu mereka tebus sehingga harus dijual oleh pihak Pegadaian. Pada hari itu aku menemukan dan menebusnya.
Cincin ini menarik karena modelnya yang sederhana sekaligus terlihat mewah. Untuk kulitku yang agak pucat, dia menjadikan kulitku lebih hidup. Harganya lumayan (menurutku tidak mahal bila dibandingkan dengan desainnya. Namun juga tidak murah, sekitar separuh gaji bulananku). Keistimewaan membeli di Pegadaian, tidak ada tambahan biaya untuk beli desain perhiasan. Harga jual dihitung hanya dari berat emasnya.
Bertambah aku menyukai cincin ini, aku semakin memikirkan pemilik cincin sebelumnya. Apakah dia masih mengenang cincin ini dan pernah satu kali datang ke Pegadaian untuk melihat atau menebusnya kembali, namun terlanjur telah aku miliki? Aku sendiri pernah menjual liontin kesayanganku dan sampai saat ini masih mengingat rupa dan detilnya. Liontin berbentuk kelopak mawar tersebut terbuat dari emas murni dan dirancang oleh pengrajin emas biasa (bukan desainer perhiasan profesional) sesuai gambaran dariku. Liontin mawar itu adalah perhiasan pertama yang kubeli dengan penghasilan penuh dariku (bukan berasal dari uang pemberian suami atau sumber rezeki nonplok lainnya) sehingga sayangku padanya berlebihan.
Aku seperti dapat merasakan kehilangan pemilik cincin yang kupakai ini. Ketika seseorang menitipkan perhiasan atau barang berharganya di Pegadaian, pasti terniat dalam dirinya untuk memiliki/menebus barang itu kembali. Berbeda jika dia langsung menjualnya ke toko emas, niatnya untuk melepas perhiasan tersebut telah penuh.
Begitulah kehidupan. Hari ini memiliki, lusa kehilangan. Banyak hal datang dan pergi dari hidupku. Aku harus merawat dengan baik apa yang kumiliki dan kusayangi, dan melepas hal/material lainnya yang tak begitu kubutuhkan/sukai. Mungkin bagi orang lain itu berguna.
Satu kehilangan tak akan membuatku hancur.
Allah mempertukarkan kesenangan dan kesedihan dengan sifat adilnya itu

