ANAK GADIS DILARANG GENIT

Kurang tiga jam lagi waktu berbuka akan datang. Bapak belum pulang kantor. Ibu belum mulai masak meski dapur sudah dirapikan sejak tadi. Adik-adikku sudah kembali dari sekolah dan bermain sebentar dengan kawan-kawannya. Mereka tidak ribut seperti biasa. Tunak, rasa lapar menjinakkan mereka.

“Uang belanja habis,” ungkap Ibu semalam. Aku berada di dekat mereka dan menangkap pembicaraan itu.

“Besok Papa cari hutangan di koperasi kantor,” jawab Bapak, pelan tapi sepertinya yakin akan mendapatkannya.

Penghasilan PNS di tahun 80an tak sebaik sekarang. Bapak pegawai tulen, dia tak punya sumber pendapatan lain. Ibu stay di rumah mengurus keenam anaknya. Pernah sih Ibu buka warung kecil-kecilan, dibantu oleh Tulang (adik laki-laki Ibu) namun tak bertahan lama. Jajanan di warung lebih banyak kami yang makan. Uangnya tak ketemu.

Aku gak bakalan cerita betapa ideal dan penuh tanggung jawabnya orangtuaku. Kalian pasti akan berhenti membaca tulisan Kenangan Ramadhanku ini. Dunia ini tak semanis dan sebosan itu, kan?

Bapak akhirnya pulang. Dia membawa ikan mas. Wajahnya cerah meski lelah. Di usiaku yang belum 15 tahun, aku mulai paham masalah keuangan yang dihadapi orangtuaku. Bapak membeli ikan itu dari uang hutang.

Setelah aku dewasa dan menikah, aku pernah bertanya dalam hati, mengapa Bapak membeli ikan emas untuk makan malam kami? Mengapa tidak ikan asin/teri, atau ikan laut yang harganya jauh lebih murah? Bapak boros, dia tak harusnya memaksakan diri membeli sesuatu yang di luar kemampuannya.

Namun aku diingatkan sifat Bapak yang penyayang. Bapak ingin anak-anaknya bergembira saat berbuka. Rasa lapar anak-anaknya yang terpuaskan waktu berbuka adalah kebahagiaannya. Lewat puasa, Islam mengajarkan umatnya berempati terhadap orang miskin, agar mengenal Allah lebih dekat, dan menguatkan relasi antara penderitaan fisik yang akan bernilai ibadah selama dijalani dengan ikhlas, Bapak milih mengajarkan puasa dengan cara lembut dan membujuk. Anak-anaknya waktu itu baru berusia 15, 14, 12, 11 tahun, dan dua balita.

Selesai magrib, makan malam dan beberes sisa makanan, kami dilepas ke masjid untuk taraweh. Aku menyukai tarawih namun belum dilandasi taqwa. Aku suka karena di masjid aku dapat wawasan dan kenalan baru.

Suasana malam selama bulan Ramadhan jauh lebih hidup. Aku melalui warung dan toko yang penuh barang rumah tangga dan makanan. Aku bertemu kawan-kawan mengaji dan sekolah yang bersemi cantik dan ganteng, suka bersolek dan mudah senyum, karena sadar sedang diamati remaja lainnya.

Di pojok masjid, jika tirai pembatas saf laki-laki dan perempuan dibuka, aku bisa melihat dan mengamati wajah-wajah jamaah laki-laki muda dan tua, menyimak ekspresi mereka dan mereka-reka rumah mereka itu yang sebelah mana ya?

Ada proses berpikir yang mengalir di kepalaku saat itu. Berpikir, mengingat, dan mengaitkan satu dengan yang lain. Kegiatan olah pikir yang sulit dijelaskan tapi itu asik. Mungkin itu awal dari kesukaanku mengamati dan menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

Sholat tarawih ke masjid seharusnya tak dilakukan anak-anak tanpa didamping orangtuanya. Ketiga adik laki-lakiku berangkat masing-masing, Bapak juga pergi sendirian. Itu jamak juga di keluarga lain. Aku lebih sering berangkat bersama Ibu, sekali-sekali diajak oleh tetanggaku sebaya.

Mengapa harus didampingi? Kenakalan remaja sebagian tumbuh dari malam-malam tarawih itu. Remaja laki-laki mulai merokok dan menggoda remaja perempuan yang melintas. Sebagian sih niatnya masih benar, ikut sholat sampai rakaat akhir. Namun lebih banyak yang duduk di sekitar masjid, berebut job parkiran sandal, atau pura-pura sholat di ujung rakaat.

Untunglah aku tak menyalahgunakan malam tarawih untuk kesenangan-kesenangan picisan. Meski kadang diajak oleh kakak-kakak tetangga yang sudah pintar besolek, obrolan mereka gres dan tawanya renyah, namun lebih nyaman bersama Ibuku yang ibadahnya khusu’.

Ramadhan mendekatkan aku dan Ibuku. Pertengkaran Ibu dan anak perempuannya yang konon meningkat di saat anak masuk usia remaja, tak terjadi pada kami. Aku dikawal, namun diberi keleluasaan memilih caraku menuju sholeha dan berilmu. Syarat kerasnya, tak boleh genit.

“Kasihan Papamu. Orang-orang akan membicarakannya jika melihatmu bergenit-genit di luar,” nasehatnya yang sangat aku ingat. Aku menyayangi Bapak. Aku Boru Panggoaran-nya. Nasehat Ibu whoosh, langsung menancap ke hatiku.

Bagaimana dengan adik laki-lakiku? Mereka tengah berjuang untuk memperbaiki kehidupan dan keimanannya masing-masing. Jalan mereka cukup terjal. Teruslah berjuang, adik-adikku.


Leave a comment