Saat sendirian, sering sekali percakapan dengan anak-anakku belasan atau puluhan tahun lalu muncul kembali. Salah satunya yang berikut ini.
Aku sedang bekerja di depan laptop, anakku yang bungsu tengah menggambar di atas kertas bekas dengan spidol warna warninya. Dia masih berumur empat tahunan kala itu. Belum masuk sekolah kanak-kanak.
Aku nyeletuk.
“Mama akan pergi ke Aceh, untuk pelatihan sekitar satu bulan. Kamu tak keberatan kan?”
Aku sampaikan hal tersebut karena ada penawaran dari bosku untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Dia diam saja untuk beberapa saat. Anak keduaku ini lebih pendiam dibanding abangnya sehingga aku terbiasa menerima slow responnya. Namun dia menangis, dengan air mata langsung membanjiri wajahnya.
“Kalau mama mati di sana, siapa yang akan mengajariku membaca?” ucapnya sambal terisak.
Aku terkejut mendengar jawaban yang tak disangka tersebut. Oh Tuhan, ternyata anak kecil yang kukira tak mengerti apa-apa menyimpan trauma terhadap bencana alam tsunami Aceh yang terjadi tahun sebelumnya (tahun 2004). Semua layar televisi tak henti-henti menyiarkan kejadian tersebut hingga setahun kemudian.
Selain sedih mendengar kekhawatirannya (dan langsung mendekapnya), aku juga merasa bangga. Anakku mengandalkanku untuk mengajarinya membaca! Mungkin karena dia melihat aku memperkenalkan huruf demi huruf latin kepada abangnya hingga dia bisa membaca. Dia ingin aku melakukan hal yang sama untuknya.
Pengalaman tersebut mengingatkanku betapa memori anak sangat kuat. Tidak semua ketakutan mereka muncul ke permukaan, namun tersimpan di ingatannya dengan sangat kuat. Jika anak-anak takut terhadap sesuatu dengan alasan yang tak jelas, kemungkinan dia pernah melihat atau mengalami kejadian tersebut namun tak diceritakan kepada orangtuanya pada saat itu juga.
Sebagai orangtua, kita harus berhati-hati. Mungkin ada trauma yang bisa dinetralisir si anak seiring bertambahnya kedewasaan. Namun ada yang membekas lama dan mempengaruhi prilakunya hingga dewasa.