SUKSES meledakkan fasilitas reaktor nuklir Iran, Tom berencana pulang untuk menghadiri wisuda putrinya, Ida. Bukan hanya itu, sang istri Cory mendesak menandatangani dokumen perceraian mereka. Cory tidak tahan menanggung beban keluarga akibat akibat hubungan jarak jauh dengan sang suami yang agen CIA. Hubungan mereka tidak bisa lagi diperbaiki, sang istri telah menemukan pria pengganti.
Saat transit di Dubai dan bertemu dengan agen CIA lainnya, Roman, Tom dibujuk untuk menyabotase satu lagi fasilitas nuklir Iran yang berbatasan dengan Provinsi Herat di Afghanistan. Diiming-imingi setumpuk uang, yang diperlukannya untuk membiayai kuliah kedokteran putrinya, Tom menyerah dan mengikuti kemauan Roman; menjalankan misi ilegal di negara penuh konflik tersebut. Dia didampingi seorang penerjemah, Mohammad alias Mo.
Pemerintah Iran yang geram dengan peledakan fasilitas nuklir mereka, berhasil mengungkap identitas Tom. Pengejaran pun dimulai. Tidak hanya agen Iran yang menginginkan Tom. Ada Kahlil, seorang tokoh milisi berpengaruh di Afghanistan. Targetnya satu; mendapatkan Tom untuk dijual ke penawar tertinggi.

Tom dan Mo terkurung di Herat. Roman yang merasa bertanggungjawab, melobi petinggi CIA untuk menyelamatkan agen rahasia itu serta Mo. Kejar mengejar terjadi di sepanjang jalan dari Herat ke Kandahar, tempat penyelamatan yang dijanjikan oleh pimpinan CIA. Di tengah gurun pasir dan bukit batu, pertarungan dan pengejaran yang menegangkan terjadi. Tom berhasil melumpuhkan dan menjatuhkan helikopter Iran. Kahlil masih mengintai di belakang, menunggu saat yang tepat untuk menangkap mangsanya.
Film yang sangat menegangkan ini sedikit mengungkap sisi lain pertarungan politik dan kekuasaan di Afghanistan. Ada milisi yang dipimpin Kahlil yang pro barat, milisi pimpinan Rosul yang pro Taliban, milisi eks ISIS, dan milisi yang dipimpin Ismail Rabbani yang opportunis, membela siapa yang bayar. Mo yang berang (karena anaknya dibunuh oleh Ismail beberapa tahun lalu) bersumpah, negeri Afghanistan tidak akan pernah damai karena orang-orang seperti Ismail. Yang berjuang untuk kepentingan sendiri dan pundi uang.
Meski berhasil mendekati pesawat yang menyelamatkan mereka kembali ke Amerika, Tom kehilangan sahabatnya Roman yang mengumpankan dirinya untuk menghambat laju pengejaran Kahlil. Terbersit pesan, kesedihan dan kesunyian yang dirasakan oleh Tom dan Mo tidak ada apa-apanya dibanding kecamuk di Afghanistan yang berhasil mereka tinggalkan. Mereka diberi kesempatan hidup kedua untuk memenuhi janji ke keluarganya.
Sebagaimana film barat lainnya, citra negara konflik seperti Afghanistan tampak jelek dan buas dalam cinema berdurasi dua jam ini. Mayat-mayat bergantungan dan ditembus peluru terlihat di seluruh penjuru. Afghan dan milisi-milisi yang ada di dalamnya menikmati konflik di negara itu, seakan berteriak kencang; I don’t wanna peace. I want problems always.
Dunia barat, China, Rusia, dan Pakistan membayar mahal akibat cawe-cawe di Afghanistan. Namun mengapa tak jera juga? Wallahualam.