Haruskah keinginan atau hawa nafsu dibatasi dengan kejam, dimatikan sebelum dia berkecambah dan menggerogoti hati dan pikiran?
Manusia selalu digoda oleh keinginan dan hawa nafsu yang tak berhenti. Selagi dirimu bernafas akan selalu muncul keinginan untuk memiliki ini dan itu, atau menjadi seperti ini dan itu.
Untuk menyelamatkan iman, hawa nafsu itu harus segera dipadamkan. Itukah yang terlintas di kepalamu?
Jangan….! Beri kesempatan dia hidup dan tumbuh. Hidupmu akan menjemukan jika kau tega membunuh keinginan dan cita-citamu, karena dirimu merasa menua atau kesempatan menipis. Keinginan-keinginan tersebutlah yang membuatmu hidup, bergairah. Dan kau tahu…orang yang penuh vitalisme itu memiliki aura positif tersendiri, menjadi magnet untuk sekitarnya.
Keinginan tersebut menjadi indah jika di’pruning’ dengan seni tersendiri. Ibarat tanaman, jika dipangkas mengikuti gambar yang ada di kepala si tukang kebun, dia akan menjelma menjadi bonsai yang seksi.

Tapi jika keinginanmu -diibaratkan kembali ke pohon- engkau biarkan tumbuh rindang sementara halaman rumahmu sempit, dia akan kokoh menghujam ke bumi dan meringsek ke dinding rumahmu hingga reyot dan rubuh.
Keinginan dan nafsu adalah spirit kehidupan. Jangan pangkas dia hingga ke akar. Aturlah arah tumbuhnya, pangkas hanya di bagian yang tak mengikuti desainmu, dan pupuklah. Meskipun dia tua dan kecil namun nilainya melebihi sebuah pohon besar.
Yang engkau butuhkan adalah seni memangkas keinginan, mengarahkan hawa nafsu. Bukan membunuh keinginan-keinginanmu sehingga jiwa dan tubuhmu bosan, menunggu kematian dengan murung.