Jika kamu pasangan yang disakiti, tanyakan dirimu apakah semua harta, rumah yang megah dan kesenangan-kesenangan lainnya lebih bernilai dibanding kekerasan/kekasaran yang kamu hadapi setiap saat?
Shane Walsh (Josie Davis) selalu dibayangi ketakutan kepada suaminya, Matthew Walsh (David Milbern), seorang pengusaha real estate yang sukses. Hutang budinya ke laki-laki itu sangat banyak. Dialah yang melunasi semua hutang kuliahnya saat orangtua Shane meninggal dan dia dalam kesulitan yang berat.
Awalnya suaminya lelaki yang romantis dan menyenangkan. Perlahan sifat itu berubah. Dia mudah marah, curiga dan cemburu oleh hal-hal kecil dan kadang tidak masuk akal.
Suatu hari Matt melarang istrinya melanjutkan kegiatan melukisnya. Menurutnya Shane tidak berbakat. Dia juga curiga Shane sedang menebarkan pesona ke pria tetangga mereka, seorang mahasiswa yang selalu lewat di depan ruangan tempat Shane melukis. Kekerasan kembali terjadi. Matt yang kalap memukuli istrinya sampai puas.

Dokter yang memberi perawatan di rumah segera menduga Shane mengalami kekerasan rumah tangga. Dia menyarankan Shane melapor ke polisi dan minta bantuan ke lembaga yang menangani kasus KDRT. Shane terlalu takut untuk itu, baginya ucapan dokter tersebut hanya mudah bagi orang lain tapi mustahil untuk dirinya. Intimidasi suaminya sangat menakutkan.
Sudah menjadi kebiasaan Matt menghadiahi istrinya barang-barang berharga sehabis melampiaskan marahnya. Kali ini juga begitu, Shane diberi anting mahal. Mathew juga merencanakan hiking bersama, dengan mengajak mahasiswa sebelah rumah sebagai pemandu.
Dalam perjalanan hiking itu, mendadak teringat mereka belum membawa surat perjalanan yang diperlukan. Shane diutus kembali ke mobil memgambil surat tsb. Itu adalah akal-akalan Shane untuk menghilang dari suaminya. Tentunya sebelumnya telah bersepakat dengan si tetangga yang prihatin mendengar cerita Shane tentang perlakukan Matt kepadanya.
Shane lenyap. Matt sedih dan menangisi istrinya yang telah dianggap sebagai propertinya. Polisi dan berita media menduga Shane telah mati. Jasadnya tidak ditemukan.
Shane muncul di kota lain, tiga minggu sejak dia dinyatakan hilang, menemui Estelle satu-satunya sepupu yang dia punya. Estelle dan pasangannya mengelola coffee shop. Shane mendapat pinjaman cottage/rumah desa peninggalan ibu Estelle dan ikut bekerja di coffee shop itu. Meski dia merasa nyaman dengan suasana baru dan berkenalan dengan seorang pemilik usaha minuman anggur, Thomas, bayangan Matt selalu datang menghantuinya. Shane selalu waspada dengan pisau di sisinya.
Disaat hubungannya dengan Thomas makin akrab, Estelle mengalami cedera berat. Di belahan bumi yang lain, Matt mendapat telepon dari perusahaan penjual alat GPS. Mereka menanyakan Shane yang membeli alat tersebut beberapa waktu lalu.
Matt mencurigai Shane telah mempersiapkan pelariannya. Dia tidak mati. Sebelum membunuh mahasiswa tetangganya, Matt berhasil mengorek pengakuan arah pelarian Shane.
Matt mengejar Shane, melalui Estelle dia mengorek tempat tinggal istrinya itu. Estelle juga dibunuh oleh laki-laki sakit ini. Shane dengan mudah ditemukan kembali oleh Matt. Kemarahannya kepada Thomas yang merayu istrinya dibayar dengan tembakan senjata.
Shane orang terakhir yang ingin dibunuhnya sekaligus yang dicintainya, berlari dan bersembunyi. Saat mereka berhadapan dan tidak ada harapan untuk selamat dari kematian, Shane memanfaatkan kerapuhan hati Matt untuk duluan menyerang dan melumpuhkan laki-laki itu.
Film yang menegangkan sekaligus membuat geram (masa sih di negara maju ada wanita yang selemah Shane mempertahankan harkat manusianya? Btw akting David Millbern di film ini bagus sekali. Bikin aku ingin bantu Shane memukul dia!), memberi gambaran tentang sisi lain perkawinan yang dipenuhi kekerasan. Meski asik, film ini ada scene adegan dewasa dan sadistis. Jadi nontonnya sendiri saja. Jangan bawa anak-anak atau remaja. Tidak sehat untuk jiwa mereka yang masih labil.