These five things have been a part of me for years. They keep me motivated and calm among many unpleasant things out there:
1. Cooking
Cooking. I am good at cooking Sumatera cuisine that’s famous for curry and fried dishes. My mother taught me to cook Rendang, Chicken Curry, Dendeng Balado, etc.
2. Gardening
I have a collection of plants in the front and back yards. Most are tropical plants, including Hoyas, Philodendrons, Succulents, and Caladiums. During the COVID-19 pandemic, I spent most of my time in the garden. I also grow spider plants, sansevieria, and golden pothos, which are good for purifying polluted air.
3. Cleaning the house
I never consider this as a regular household chore, the benefits are so many for my family and my peace of mind. A clean and tidy house gives positive energy to all of us. I feel calmer and ready to continue my days after cleaning or tidying up unused items in the house.
4. Pouring out ideas, experiences, and journeys on journals, and my social media, including blogs, Instagram, TikTok, etc.
5. Writing Articles
I am a regular writer for several mass media in Jambi, and occasionally write scientific papers in several national and international journals.
Life is not always smooth. One needs a mechanism to survive by having positive hobbies or activities. Thank goodness I have these five good things. All seems simple to others but for me, it’s important to maintain sanity.
When you cannot resolve a conflict by yourself, it is time to involve God.
I have many experiences related to that case. Once, it almost made me depressed. I didn’t know to whom I should share my thoughts. I felt cornered. He -my colleague who conflicted with me- reported me to our boss. In response, I said bad things about him to defend myself, but it was not helpful.
I blame myself for gossiping about him. The way I responded to his actions made me a bad person. What will I do to be restful and resolve the conflict? One night, I prayed. In the last prostrate in Shalah, I expressed my frustration.
“God, keep him away from me, protect me from his evil slanders. Make him fear me.”
I utter the prayers again and again. Frequent prayers bring tranquility at last.
Slowly, I don’t see him as a big enemy anymore. My perception of him is softer. When I talk to or meet him, He changes too. He is now less bossy and more careful with his words.
The prayers saved my situation. Though it is difficult to be a good friend, at least he is not a threat anymore. I am also reminded to be wiser and more forgiving. The prayer actually impacts both sides.
Melihat pakaian yang bertumpuk-tumpuk di lemari pakaian, timbul perasaan bersalah mengapa dulu begitu menggebu-gebu membeli semua ini. Semua masih terlihat baru, bagus, tak ada sobek atau bernoda, namun jarang dipakai. Modelnya pun belum out of date, dan harga belinya lumayan. Hanya rasa bosan yang membuatnya jarang dipakai lagi.
Kondisi tersebut juga banyak dirasakan oleh wanita lain. Industri garmen dan fashion termasuk yang paling berkembang di Indonesia saat ini. Berbagai pusat belanja khusus garmen tumbuh di berbagai kota khususnya di Pulau Jawa. Walau dikabarkan sepi, namun pembelian lewat e-commerce berkembang pesat. Godaan untuk membeli pakaian selalu datang setiap kali membuka media sosial.
Sebenarnya berapa sih jumlah pakaian yang dibutuhkan seseorang sepertiku agar tampil pantas? Aku ini seorang wanita bekerja 5 hari dalam satu minggu (sering berada di lapangan atau desa), usia paruh baya, weekend lebih sering di rumah dibanding di luar/mal, dan menghadiri undangan pesta perkawinan maksimal 4 kali dalam satu bulan.
Ini hitungan yang kubuat dengan pertimbangan gaya hidup minimalis. Pakaian kerja 5 set, tak selalu terpakai setiap minggu terutama saat aku mendapat tugas lapangan. Namun aku tak akan menguranginya. Aku masih mengandalkan layanan laundry yang seringkali tak tepat waktu, untuk amannya 5 stel pakaian kerja itu wajib ada. Outfit ke lapanganku biasanya celana panjang dan atasan kemeja atau baju kaos. Pakaian dalam normalnya diganti dua kali dalam satu hari, namun ada kalanya diganti tiga kali sehingga jumlah 20 set sudah memadai.
JENIS PAKAIAN
KEBUTUHAN MINIMALIS
Pakaian kerja
5 set
Pakaian dalam (bra dan celana dalam)
20 set
Pakaian pesta (batik, pakaian tradisional atau gaun gamis)
4 set
Pakaian keluar rumah (arisan, konkow, self-healing, arisan dll)
7 potong
Pakaian rumah (piyama, kaos, daster, dll)
15 potong
Bawahan (celana kaos, jeans, pantofel, dll)
5 potong
Kerudung
10 potong
Aku tak butuh banyak pakaian pesta. Hanya pesta kerabat dan teman dekat yang kuhadiri sehingga jumlah 4 set sudah cukup. Aku juga mengoleksi berbagai kain tenun yang bisa dipadu padan dengan baju kurung, tunik dan lain-lain sehingga tampilan bisa lebih bervariasi. Tak perlu terintimidasi oleh penampilan wah/glamor undangan lainnya. Aku menempatkan diriku sebagai orang biasa, yang tak dikenal banyak orang dan tak memerlukan validasi dari siapapun.
Pakaian keluar rumah atau hang-out juga tak perlu banyak. Tujuh set cukup. Plus 10 potong kerudung. Baiknya pilih (untuk baju dan kerudung) warna-warna netral polos dan bercorak bunga atau abstrak yang calm sehingga tidak mudah tergilas model terbaru. Aku juga jarang mengikuti kegiatan luar rumah sehingga tak perlu pakaian banyak. Bahkan untuk belanja kebutuhan rumah tangga sering kulakukan waktu istirahat kantor, ke supermarket terdekat. Dibekali list belanja, kegiatan shopping bulanan jadi sat-set, hemat banyak waktu.
Aku justru memerlukan pakaian rumah yang agak banyak. 15 potong. Sebab kegiatan bersih-bersih dan berkebun kulakukan sendiri, pakaian perlu diganti sehabis aktivitas tersebut. Kaos juga kupakai untuk jogging, ditutupi jaket yang nyaman. Koleksi kaosku lumayan banyak, sebagian besar pemberian dari panitia kegiatan tertentu atau acara yang kuhadiri. Selagi kaosnya berbahan katun dan nyaman, aku manfaatkan untuk menambah stok baju dinas rumahan.
Perlu juga menambahkan ke lemari stok celana kaos/rajut, jeans, pantofel sebanyak 5 potong untuk memadu madan semua pakaian atasan yang kumiliki. Mereka menjadi penyelamat. Aku sering memakai celana panjang yang sama dua sampai tiga kali dengan atasan blus/kaos yang berganti-ganti. Tak apa-apa mengeluarkan uang lebih banyak untuk celana panjang yang nyaman dan bermaterial bagus karena mereka dipakai lebih sering dibanding pakaian atasan.
Ternyata tak perlu pakaian banyak ya untuk tampil pantas. Sweet Minimalist. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memandumu untuk meminimalkan isi lemari dan keinginan belanja pakaian yang tak diperlukan.