Every time I see posts about people practicing Slow Living, everything seems so beautiful and serene. A simple, quiet home, surrounded by lush, natural surroundings, like a miniature paradise.
When I tried to achieve it, it felt different. Difficulty after difficulty arose. These challenges made me wonder and feel anxious: Can I live slowly without sacrificing my well-being and family?
To be honest, living without experiencing luxury requires strong determination. Although I grew up in a modest family, my parents wanted their children to be wealthy. The dream of a comfortable life was deeply ingrained in my soul. Now I have to abandon it and replace it with Slow Living? It’s not that easy, Friend. It’s easier to follow the trend of pretending to be rich than Slow Living.
Slow Living requires special preparation. You should no longer worry about electricity and gas bills, or healthcare, because you have sufficient funds to pay.
A deep talk with my son after praying
You don’t have to worry about paying for plane tickets whenever you want to visit your son or simply enjoy a vacation abroad. You don’t expect financial assistance from others or family.
Slow living doesn’t mean living in poverty. In Slow Living, what you need to control is the desire to show off, live excessively, or compete with others.
People who live slowly absorb life’s experiences deeply, savor their sweetness, and harness their energy to thrive in a world full of controversy and confusion.
I share this because, in my journey of slow living, I’ve found enlightenment. Slow living is a choice; you choose it pleasantly. Not because you are cornered by life.
Hmm, sounds idealistic, huh? Why is that? A dream job refers to someone’s interest, which may not be available unless one creates the job for himself.
A person may think he only accepts work that gives him a comfortable salary and benefits, a pleasant working atmosphere, a job that suits his skills and interests, and open opportunities for promotion.
However, in real life, that work may only meet one or two conditions; the rest are far from ideal.
In such a situation, many people persist and continue working because they need money to survive. Whatever happens, as long as it does not endanger his life, he will accept it.
Do I have a dream job? No. I stopped looking for it years ago.
If you still have your dream job, listen to me. Make as much money as you can now, then start your dream job with the money you earned from your previous job. Don’t forget to mentally prepare yourself for the worst that could happen.
Otherwise, you or your spouse and children may not be happy with that dream job.
Kebahagiaan merupakan kata yang sering diucapkan namun dianggap terlalu susah didapatkan, apalagi dengan cara biasa-biasa saja. Sepertinya dibutuhkan pencapaian materil yang luar biasa agar seorang bisa merasa bahagia sekaligus diakui oleh orang lain sebagai insan bahagia.
Pendapat seperti itu menggiring kita menjadi orang yang pesimistis. Padahal bahagia bisa bersumber dari mana saja, bahkan datang begitu saja sepanjang kita membuka hati terhadap hal-hal kecil yang dihadirkan Tuhan ke dunia sebagai penghibur untuk jiwa-jiwa yang membutuhkannya. Dan kebahagiaan tidak membutuhkan pengakuan dari orang lain, tidak perlu juga dipamerkan.
Suatu pagi saya keluar rumah lewat pintu belakang untuk menimbun limbah dapur organik ke komposter yang terdapat di bawah pohon buah. Semalaman tidur saya tak enak karena batuk dan maag kambuh. Diserang kondisi itu, saya merasa agak lemah dan melankolis.
Di bawah pohon, embun berjatuhan ke kulit dan rambut. Saya merasa sedikit segar. Kemudian melihat Wijaya Kusuma yang sedang mekar dan bunga spider menjuntai di teras rumah. Keduanya dibaluti kristal embun. Pemandangan tersebut mendadak menyentuh hati, mengingatkan saya seharusnya bersyukur karena hari ini masih bisa bangun. Jika saya mati, tentu keindahan pagi seperti ini tidak bisa lagi saya nikmati.
Hal kecil tersebut bisa mengungkit kebahagian. Pengaruhnya sangat besar. Sepanjang pagi saya menjadi senang bertemu dengan orang lain, menjadi lebih ramah dan mudah tertawa. Memang kebahagiaan tidak bisa berlangsung sepanjang waktu. Tergantung kita sendiri untuk mencari dan memaknai kejadian yang dialami agar bisa menjadi sumber bahagia. Dan ia akan datang berulang-ulang.
Kebahagiaan bisa meningkat levelnya, berlangsung dengan waktu yang lebih lama. Para ahli menyebutnya sebagai ketenangan (tranquility). Dan ini bisa diraih lewat latihan. Berikut beberapa cara untuk menanamkan ketenangan dalam diri:
Mindfulness dan Meditasi
Melalui cara ini kita diminta untuk fokus pada hal yang terjadi saat ini, melepaskan diri dari masa lalu yang membuat gelisah dan prasangka. Meditasi secara rutin akan membantu memusatkan perhatian dan meningkatkan ketenangan.
Latihan Pernafasan
Untuk Latihan ini bisa dipakai metode 4-7-8 (Tarik nafas melalui hidung 4 hitungan, tahan nafas 7 hitungan dan lepaskan nafas perlahan lewat mulut dengan mendesing selama 8 hitungan). Ulangi sebanyak tiga kali.
Koneksikan Diri Dengan Alam
Perbanyak waktu di alam seperti taman, pantai, hutan atau dengan melakukan aktivitas berkebun/merawat tanaman.
Olahraga Teratur dan Gaya Hidup Sehat
Melakukan olahraga secara teratur, pilih yang paling sesuai dengan niat akan dilakukan secara konsisten. Imbangi dengan makan yang sehat dan tidur cukup.
Hindari Pekerjaan Menumpuk
Aturlah agak tidak mengerjakan beberapa/banyak pekerjaan dalam satu waktu tertentu. Lebih baik fokus pada satu pekerjaan dan tuntaskan. Sediakan waktu untuk rehat dan memulihkan diri sebelum memulai pekerjaan berikutnya.
Tumbuhkan Sikap Bersyukur
Hal ini yang sering hilang dari keseharian manusia. Namun ini bisa dibiasakan misalnya dengan menulis jurnal dan menyisipkan ungkapan bersyukur di dalamnya. Atau menyediakan waktu berdoa dan merenung setiap hari yang merefleksikan rasa senang atas anugerah yang diterima hari tersebut.