Sejak dilantiknya Prabowo menjadi presiden pada 20 Oktober lalu, terus kejadian penyerangan Iran oleh rudal Israel pada 26 -27 Oktober, pasar saham Indonesia ikut bergejolak hebat. Ini merupakan salah satu momentum paling menggelisahkan sejak aku terjun ke investasi saham. Nilai portofolio sahamku melorot tajam. Beberapa saham kebanggaanku merah alias masuk ke zona loss.
Sahamku hari ini.
Dua saham andalanku; BTPS dan AKRA, potential loss > 10%
Betapa tidak gelisah…? Investasi saham ini kurencanakan untuk mendapatkan passive income saat aku purnabakti nanti. Jika kondisinya merah begini, jangankan menjadi inkam tambahan, aku bisa-bisa kehilangan uang/modal yang selama ini kuhemat-hemat demi masa pensiun yang sejahtera.
Namun aku tak membiarkan pikiran buruk tersebut menguasai akal sehat. Seraya mengingat-ingat alasan aku berinvestasi saham, aku menemukan jawaban yang menenangkan. Ketika mulai membeli saham nyaris dua tahun lalu, aku telah membekali diri dengan pengetahuan tentang saham, resiko dan cara meminimalkan resiko tersebut. Hal-hal berikut ini merupakan argumen untuk menenangkan diriku.
Seleksi Saham Dengan Analisis Fundamental
Aku punya 10 saham berbeda dalam portofolioku. Hampir semua saham tersebut masuk indeks LQ 45 yaitu saham di Bursa Efek Indonesia dengan liquiditas tinggi. Saham ini masuk indeks LQ 45 karena memenuhi kriteria kapitalisasi pasar, frekuensi perdagangan dan nilai transaksi.
Selain itu, aku juga mengamati statistik kunci saham tersebut seperti PBV<1, PER <10, dividen lumayan tinggi (agar passive income juga lumayan) dan dividen yield >6% (melebihi bunga bank sehingga saham tersebut pantas disimpan/keep untuk jangka panjang).
Konsisten dengan Niat Awal untuk Jadi Investor
Sebelum masuk ke investasi saham, aku banyak membaca tulisan dan menonton video tentang saham. Salah satu yang diingatkan penulis/mentor dalam konten mereka adalah harga saham bisa naik turun, seringkali disebabkan faktor psikologis pasar. Jadi bukan karena kinerja perusahaan buruk atau rugi. Bagi seorang investor, naik turun harga saham jangan sampai bikin gundah, selama dia yakin telah memilih saham perusahaan yang sehat.
Namun lain ceritanya jika dia seorang trader saham. Fluktuasi harga saham merupakan kesempatan bagi trader untuk mencari untung. Wajar jika harga saham anjlok mendadak dan dia sedang memegang saham tersebut dengan jumlah banyak, ia berpotensi rugi besar.
Harga Saham Turun, Saatnya Menambah Muatan
Justru ketika saham favorit lagi turun harga, kesempatan menambah lot saham terbuka lebar. Istilahnya; membeli saham dengan harga diskon. Aku selalu memanfaatkan kondisi ini. Salah satu alasan mengapa aku memiliki 10 saham berbeda dalam portofolioku, agar aku dapat membeli saham bergiliran. Beli saham yang lagi merah atau turun harga, dan memandang-mandang dengan bahagia saham yang lagi hijau (profit). Sayangnya, aku tidak selalu bisa membeli di kondisi demikian karena uang dinginnya lagi tidak ada. Wajib tahu ya…, beli saham dengan uang dingin, yaitu uang yang benar-benar berlebih dan tidak akan digunakan dalam jangka cukup panjang.
Jangan Memandangi Terus Akun sekuritas
Pada kondisi pasar bursa saham lagi demam, aku memilih untuk tidak membuka akun sekuritas yang mengelola saham-sahamku terlalu sering. Buka sekali-kali saja. Ini penting untuk menjaga mood agar tak gelisah. Lebih baik bekerja atau berkegiatan lain hingga tak terasa kondisi pasar membaik. Saham yang anjlok merangkak naik dan kembali ke performanya.
Itulah kiat-kiat yang aku lakukan sebagai seorang pemula di dunia saham. Sejauh ini aku merasa ada yang berubah positif dalam diriku. Persiapan pensiunku jadi lebih fokus, lebih bisa mengerem pengeluaran mubazir, dan semenjak aku mencicipi manisnya dividen, tekadku menginvestasikan sebagian penghasilanku ke saham semakin kuat. Ketakutan-ketakutan yang dulu jadi penghalang untuk memulai investasi saham, hilang. Agak menyesal juga sih, kenapa tidak dari dulu saja menabung saham. Mungkin aku sudah jadi milyuner sekarang heheheh….