Jangan kejar apa yang diinginkan orang banyak; kejar apa yang benar bagi jiwamu
Aku terganggu oleh ucapan Socrates ini. Yang diinginkan oleh diriku adalah juga yang diinginkan orang banyak. Mereka mengikut di belakangku, bukan aku yang mengikut di belakang mereka. Benarkah?
Sejatinya tidak demikian. Aku terganggu karena ucapan Socrates tersebut meninju dadaku dengan lembut. Sudahkah aku mengenal jiwaku dengan baik sehingga dapat mengetahui apa yang diinginkannya? Belum! Aku masih menginginkan apa yang diincar oleh orang banyak, tanpa memedulikan keinginan jiwaku.

Tentu aku bohong ketika mengklaim, orang banyak mengikut di belakangku, meniru keinginan-keinginanku. Siapalah aku ini?! Aku bukan trend-setter. Aku bukan idola siapapun. Akulah yang mengikuti, terpengaruh, dan terintimidasi oleh arus utama hedonisme. Hingga jiwaku gelisah dan meronta ingin memiliki semuanya.
Setiap jiwa merindukan ketenangan. Dia tak akan menuntut bintang di angkasa, atau emas di perut bumi. Semua itu tak mengenyangkan jiwa. Nafsulah yang mengipas-ngipasnya, seolah-olah semua itu permintaan jiwa. Jiwa hanya ingin diberi iman, ilmu, hiburan, buku, film dan perihal lain yang bernilai spritualitas tinggi.
Terima kasih Socrates. Engkau mengingatkanku tentang jiwa yang tenang. Jiwa yang meminta tak muluk-muluk.