Malam ini aku sampai di Kota Tungkal. Kota ini berada di pinggir laut, berada di Kec. Tungkal Ilir Tanjung Jabung Barat. Ini bukan kunjungan pertama, telah berulang ulang namun tidak pernah lama sehingga aku tidak sempat mengeksplor wilayah ini dengan baik.
Aku langsung menuju warung makan favoritku di pertigaan jalan Ki Hajar Dewantara. Di sini kulinernya khas Arab dan India seperti martabak kari, nasi minyak, kebab, nasi goreng dll serta minuman rempah dan teh tarik.

Nongkrong di pertigaan kawasan pasar, keramaian bagian kota ini begitu hidup malam ini. Kicau burung walet bersumber dari bangunan bertingkat di sekeliling kota, suara kendaraan bermotor dan tausiah ustadz dari corong masjid saling berebut frekuensi.

Nah, ini gambar pertigaan jalan di depan restoran tongkrongan kami. Ruang atau gedung di atas toko tidak dihuni manusia, melainkan burung-burung walet yang berisik di malam hari. Bisnis (air liur) burung walet termasuk andalan masyarakat di kota ini.
Kembali ke restoran, di dindingnya tersusun foto-foto syekh dan habaib dari penjuru dunia. Aku bertanya ke pemilik restoran apakah dia memiliki hubungan keluarga dengan mereka? Dia jawab tidak. “Saya dan keluarga pecinta para Habib,” jawabnya. That’s the reason why many pictures of Syech and habaib there.

Selain dipengaruhi budaya Arab dan India, makanan Tungkal juga bercita rasa Cina. Itu terlihat dari aneka hidangan seafood. Di beberapa lokasi di kota berpenduduk sekitar 73 ribu jiwa ini terdapat klenteng dan pekuburan orang Cina yang megah dan berwarna seronok. Sentimen anti Cina tidak terasa di sini. Entahlah kalau di akar rumput. Perlu tinggal lebih lama di sini kalau ingin dapat gambaran yang sebenarnya. Aku melihat penduduk etnis Cina menyatu dengan warga sekitar, tidak terlihat elitis seperti di kota besar.
If you want to come here, below the map to reach this resto. Spending your evening and taste the meal.
